Wajah Pendidikan di era globalisasi saat ini tidak dapat dilepaskan dengan adanya dinamika sejarah yang telah berlangsung dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di bumi. Proses pewarisan dan pengembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman pada ajaran Islam sebagaimana termaktub dalam Al Qur`an dan terjabar dalam Sunnah Rasulullah bermula sejak Nabi Muhammad SAW menyampaikan ajaran tersebut pada umatnya.
Idealnya hambatan terbesar masyarakat maupun mahasiswa saat ini tentang sejarah Islam adalah kurangnya dalam menelaah dan memahami tentang sejarah Islam itu sendiri dikarenakan minimnya minat membaca dan curiosity yang masih lemah sehingga mereka buta dengan sejarah. Kendati demikian, jika kita merekonstruksi lebih mendalam tentang sejarah Islam banyak pemahaman dan pembahasan peradaban Islam dari cara pemikirannya, cara pandang (outlook), ataupun mentalitas manusia. Manusia sebagai aktor kebudayaan dengan landasan ideologisnya menjadi sentral pembahasan, karena dalam ajaran islam manusia menjadi tolak ukur mentalitasnya adalah aktor perubahan. Sedang peradaban Islam sendiri telah memberikan konstribusi secara signifikan dalam bidang pendidikan, sosial, filsafat, antropologi dsb. Rekonstruksi sendiri artinya melakukan konstruksi ulang secara metodik dan sistematik agar ada keserasian dan kesesuaian dengan zaman bahwa tuntutan global hendaknya mampu menyediakan model peradaban Islam dengan tujuan mampu menghadapi masalah lokal dan global.Salah satu yang paling mengesankan dalam sendi-sendi peradaban Islam adalah pendidikan seumur hidup (life long education) yang terukir dalam sejarah sekaligus dalam sabda Rasulullah SAW “Carilah ilmu dari sejak bayi hingga ke liang lahat”. Islam menempatkan ilmu dalam tempat khusus dan member nilai lebih terhadap ilmu (the value of knowladge). Saksinya adalah ratusan hadis dan ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan ilmu dan diperkuat dengan fakta sejarah. Berkenaaan dengan hal itu, Studi Islam bagi umat Islam adalah ihwal yang sangat urgen dikembangkan, baik untuk kemaslahatanya di dunia maupun di akhirat kelak. Untuk kebaikan umat Islam di dunia, studi Islam bermanfaat bukan hanya untuk menjalani hari-harinya dengan sebaik mungkin, tetapi juga untuk menggoreskan tinta emas pada masa depan peradaban dikemudian hari secara gemilang. Sedangkan untuk kebaikannya di akhirat, studi Islam bermanfaat sebagai pembelajaran yang sangat berharga baginya agar tidak terjerumus ke dalam jurang neraka.
Masa kejayaan pendidikan Islam merupakan satu periode dimana pendidikan Islam berkembang pesat yang ditandai dengan berkembangnya lembaga pendidikan Islam dan madrasah (sekolah-sekolah) formal serta universitas-universitas dalam berbagai pusat kebudayaan Islam. Lembaga-lembaga pendidikan sangat dominan pengaruhnya dalam membentuk pola kehidupan dan pola budaya umat Islam. berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang melalui lembaga pendidikan itu menghasilkan pembentukan dan pengembangan berbagai macam aspek budaya umat Islam.
Pada masa kejayaan ini, pendidikan Islam merupakan jawaban terhadap tantangan perkembangan dan kemajuan kebudayaan Islam. kebudayaan Islam telah berkembang dengan cepat sehingga mengungguli dan bahkan menjadi puncak budaya umat manusia pada masa itu.Pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan pada masa dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa pemerintahan Harun al Rasyid (170-193 H). Karena beliau adalah ahli ilmu pengetahuan dan mempunyai kecerdasan serta didukung negara dalam kondisi aman, tenang dan dalam masa pembangunan sehingga dunia Islam pada saat itu diwarnai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Keberhasilan umat Islam dalam memahami, menyerap, menstransfer, serta melaksanakan ajaran-ajaran Rasulullah secara konsisten, dinamis, kreatif, dan inovatif di karenakan dinamika umat Islam dalam kegairahan mencari ilmu (uthlub al-ilma), memiliki curiusity yang tinggi, dan semua yang mereka lakukan semata-mata untuk mendapat ridho Allah SWT.
Menjadi manusia yang berperadaban maju dan memiliki level coriusity yang tinggi merupakan keharusan yang sangat fundamental. Aspek-aspek ajaran Islam perlu ditafsirkan ulang untuk menjawab tantangan zaman yang bersifat kekinian, dengan tetap berada dalam fundamen Islam. Akal pikiran diakui keabsahannya untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan jiwa Islami dapat diIslamkan (Islamisasi) dengan cara yang berproses, tidak serba ditolak atau sebaliknya diubah secara drastis. Modernisme Islam terjebak pada nalar instrumental sebagaimana alam pikiran modernisme pada umumnya. Nalar organik seperti ini memberikan tawaran bagi kepentingan-kepentingan hidup yang berorientasi pada efektivitas, efisiensi, dan rasionalisasi. Tetapi selalu ada yang tercabut dalam alam pikiran instrumental modern itu yakni hal-hal yang bersifat kerohanian, komunalitas, dan dalam makna yang wajar tradisionalitas.
Dalam pemikiran keagamaan, misalnya, sangat berorietasi pada pendekatan bayani (tekstual) sekaligus kurang apresiatif terhadap hal-hal yang irfani (intuitif, spritual). Banyak hal yang disikapi secara organisatoris sekaligus ketarjihan, sehingga mengabaikan hal-hal yang bersifat sosiologis dalam kehidupan ini. Hubungan-hubungan yang bersifat komunalitas seperti silaturahim personal secara langsung dikalahkan oleh komunikasi sosial yang organik melalui media yang sifatnya tidak langsung, lebih-lebih setelah teknologi elektronik menguasai kehidupan. Berdasarkan berbagai pemaparan yang dipaparkan, kesenjangan yang menghambat dialog intensif menuju integrasi antara ideologi al-nusushush al-syariyyah dan ideologi modernitas. Respon para pendahulu tentang skala global telah diupayakan oleh mereka yang masuk dalam zona aliran modern dalam Islam. Sebagian organisasi Islam memiliki grand epistemology yang menghubungkan kedua ideologi dalam bentuk dialogis integratif, lagi berdimensi kekinian, kedisiplinan, keapaan, dan kesiapan.
Monday, March 23, 2015
Rekonstruksi Pemahaman Sejarah dalam Pendidikan Islam
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment